Mendengar
lantunan Al Quran dari berbagai masjid sangat membuat hatiku basah, bukan basah
karena guyuran air, tetapi basah oleh rintikan-rintikan rasa rindu. Rindu ini
kembali menyapa akan suasana yang bising tapi tetap damai, suasan itu adalah suasana
pesantren. Mondok di pesantren merupakan hal yang begitu indah disaat remajaku.
Dua puluh empat jam waktu selalu dilalui bersama kawan-kawan santriwati, yah ..
walaupun kadang diantara kami timbul percekcokan karena hal yang sepele, tapi
dari hal tersebutlah yang merupakan bumbu-bumbu perekat hubungan pertemanan
kami, hubungan persaudaraan kami.
Enam tahun menimbah ilmu di
pesantren, bagiku bukanlah waktu yang lama, aku merasa waktu itu cukup singkat,
karena kebersamaan itulah yang membuat segalanya terasa cepat berlalu. Keceriaan
itulah yang memadamkan kejenuhan ketika mondok. Ingin rasanya tubuh ini kembali
terhempaskan dalam alunan keceriaan di pesantren.
Di pesantren tak pernah merasa
kesepian, walaupun kadang rindu melanda perassan ini, rindu akan orang tua,
suasana nyaman di rumah, masakan-masakan yang siap saji, kasur yang empuk,
serta kamar mandi yang siap pakai tanpa harus antrian, tapi semua itu kita
lakukan dan rasakan bersama walau sulit untuk dijalani. Pahit rasanya, tapi, semuanya menjadi mudah dan manis dalam lautan kebersamaan.
Bagiku, pesantren merupakan sumber
keceriaan walau banyak yang mengatakan hidup dipesantren bagaikan penjara. Yaah
... memang penjara, tapi, pesantren adalah penjara suci, penjara yang menyenangkan,
penjara yang didalamnya merupakan ladang pahala, dan berbagai macam sumber
ilmu. Namun sedikit penyesalan dalam diri ini, karena kurang memanfaatkan waktu
yang ada, memanfaatkan kesempatan yang berharga didalamnya.
Yah ... begitulah adanya .
Dengan
balutan rasa rindu.
Jum’at, 28 Maret 2014