BELAJAR MEMBACA
Kakiku luka
Lukakah kakiku
.....
Lukakah kakiku
.....
Teringat penggalan puisi ini -cipt Muh.Syukur
Salman- . Judulnya tidak mengandung bahasa-bahasa dewa, isinya terlebih.
Puisi ini saya dapatkan dan saya dengar pada peLatihan Dasar Jurnalistik -LDJ- waktu masih mondok di pesantren. Kembali memori masa lalu terulang, sewaktu pemateri meminta peserta untuk membacanya, banyak mengacungkan tangan, berlomba, beharap agar ditunjuk oleh moderator untuk naik membacakan puisi tersebut -termasuk diriku- . Tapi, peserta lain yang berhasil ditunjuk. Ketika yang ditunjuk telah naik membacakan puisi, membacakannya dengan penuh penghayatan, dengan intonasi pembacaan puisi pada umumnya.
Setelah peserta tersebut membacakan puisi itu, pemateri -Pak Syukur Salman- kembali membacakan puisinya sendiri.
“Ini judulanya BELAJAR MEMBACA, bagaimana orang kalau sedang belajar membaca ? mengeja kan intonasinya “? -kurang lebih begitulah kalimatnya sebelum beliau membacakan puisinya-
Dengan intonasi yang terbata bata beliau membacakan puisinya
"BE-LA-JAAAR MEEEM-BACA
KA-KI-KU LU-KA
LU-KA-KAH KA-KI-KU
...
..."
Riuh suara cekikian peserta mendengar intonasi pembacaan puisi yang demikian -termasuk diriku- ternyata puisi "belajar membaca" itu dibacakan layaknya anak atau orang yang sedang belajar membaca, yakni dengan mengejanya.
Puisi ini saya dapatkan dan saya dengar pada peLatihan Dasar Jurnalistik -LDJ- waktu masih mondok di pesantren. Kembali memori masa lalu terulang, sewaktu pemateri meminta peserta untuk membacanya, banyak mengacungkan tangan, berlomba, beharap agar ditunjuk oleh moderator untuk naik membacakan puisi tersebut -termasuk diriku- . Tapi, peserta lain yang berhasil ditunjuk. Ketika yang ditunjuk telah naik membacakan puisi, membacakannya dengan penuh penghayatan, dengan intonasi pembacaan puisi pada umumnya.
Setelah peserta tersebut membacakan puisi itu, pemateri -Pak Syukur Salman- kembali membacakan puisinya sendiri.
“Ini judulanya BELAJAR MEMBACA, bagaimana orang kalau sedang belajar membaca ? mengeja kan intonasinya “? -kurang lebih begitulah kalimatnya sebelum beliau membacakan puisinya-
Dengan intonasi yang terbata bata beliau membacakan puisinya
"BE-LA-JAAAR MEEEM-BACA
KA-KI-KU LU-KA
LU-KA-KAH KA-KI-KU
...
..."
Riuh suara cekikian peserta mendengar intonasi pembacaan puisi yang demikian -termasuk diriku- ternyata puisi "belajar membaca" itu dibacakan layaknya anak atau orang yang sedang belajar membaca, yakni dengan mengejanya.
@memori masa mondok
#LilBanatpunyacerita
#LilBanatpunyacerita