Masih
Manusiakah Kita ?
Manusai adalah
mahkluk ciptaan Allah Swt yang paling mulia. Bedanya manusia dengan setan yakni
berbeda kemuliaannya di mata Allah Swt, tetapi di dunia ini manusia dan setan
mungkin perbedaannya sangatlah tipis. Musuh daripada manusia adalah setan yang
sering menggodanya untuk beperilaku tidak benar, tetapi, mayoritas manusia mudah
tergoda akan hasutan tersebut . Jika tubuh atau bentuk fisik kita manusia
dipandang serta diperhatikan dengan cermat di hadapan cermin sangatlah sempurna,
sangat lengkap, susunan struktur tulang yang baik, komponen – kompnen wajah
lengkap, serta bagian – bagian tubuh pun terpenuhi. Tetapi, kelengkapan tersebut
tidak dibarengi dengan sifat atau akhlak yang baik. Kadangkala manusia sendiri
tidak menyadari dirinya bertingkah seperti hewan dan mudah terhasut bujuk rayu
musuhnya sendiri, sehingga akan melekat menjadi teman di akhirat, Na’udzu billah min zalik.
Kadangkala manusia
tidak melihat dirinya sendiri, atau kurang sadar akan dirinya, sebagai
contoh, mengatakan bahwa hewan itu jorok karena membuang kotorannya di
sembarang tempat , tidak memiliki tata krama, seperti halnya jika keluar dari
kandang tidak antrian. Tetapi potret nyata di dunia ini manusia juga memiliki
hal tersebut, tidak pedulilah dengan lingkungan, buang dan melemparkan sampah
sembarangan, serta menganggap hal tersebut adalah hal yang sepele, bukankah
tidak jauh berbeda dengan sifat hewan yang jorok ? Manusia kadangkala tidak
memiliki sopan santun, misalnya bagi pelajar, masuk dikelas dalam keadaan terlambat, masuk tidak mengucapkan
salam atau tidak permisi. Begitu pun dengan hal tersebut, manusia tidak jauh
berbeda dengan hewan yang kurang tata krama dalam dirinya.
Begitupula dengan
musuh manusia itu sendiri, yakni setan yang beranggapan bahwa manusia musuhnya
seta. Tetapi mayoritas manusia dan
nyatanya dalam potret kehidupan manusia sendirilah yang senang bergaul dengan
musuhnya, dan akan menjadi teman setia sampai akhirat, Na’udzu billah min zalik. Itulah ketidaksadaran manusia menjadi
mahkluk yang mulia, serta mahkluk yang di cap sebagai mahkluk yang berbudaya.
Alangkah indahnya potret di dunia ini apabila manusia itu manyadari dan merenungkan perbuatan serta tingkah laku
yang sesatnya. Karena sebagai mahkluk yang berfikir dan berakal janganlah hanya
mampu menjelek jelakkan mahkluk Allah yang lainnya, sadarilah diri sendiri atau
tegurlah selalu diri sendiri ketika tubuh ini berbuat salah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar